Sabtu, 30 Mei 2009

Mimpi Sakaratul Maut


Kata orang, mimpi adalah bunga tidur...tidur tanpa mimpi sama halnya sayuran tanpa garam...wait mimpi apa dulu, kalau mimpi di bom ma Israel...kayak sayuran kebanyakan cabe....hmmmm....bangun-bangun, pasti bawaannya mau balik ngebom....he he....

Tahun 2005 bulan Mei tepatnya, Eyang Ibu meninggal karena mengidap kanker paru-paru. Beliau tidak pernah mengeluhkan apa-apa sebelumnya. Tiba-tiba dada terasa sesak, nafas susah, itu saja....
2jam kemudian dibawa ke rumah sakit, dan.... dokter mendiagnosa kanker paru-paru stadium empat...... Sontak kami sekeluarga dibuat kaget. Yang terfikir, MasyaAllah kanker tidak bertahan lama.....
Aku hanya bisa diam dan mencoba untuk sedikit memberi semangat pada keluarga. Kukatakan bahwa, inilah wujud sayang Allah pada hambaNya. Sakit adalah wasilah yang Allah berikan untuk menghapuskan sebagian dosa di dunia jika kita ikhlas dan bersabar menerimanya. Kita doakan saja...Dan jangan pernah mengusahakan sembuh dengan jalan yang tidak diridhoi Allah...ke dukun misalnya. Jika mengobatkan dengan cara yang tidak halal, gugurlah semua pahalanya atau bahkan pahala bisa berubah menjadi dosa.....

Dokter memutuskan untuk menguras habis kanker di paru-paru. Dibutuhkan waktu 6 jam lamanya, operasi paru-paru. Tahap selanjutnya, kemotherapi, kemotherapi dan kemotherapi....dan entah sampai kapan...??
Gurat wajahnya terlihat menahan sakit yang luar biasa. Rambut rontok, kulit hitam-hitam karena panasnya kemo, muntah-muntah tak ada hentinya. Dan hebatnya, Eyang terlihat kuat dan optimis sembuh. Salut, salut !!

Benar, innalillahi wa inna illaihi rajiun.....Eyang wafat beberapa bulan setelah operasi, karena kanker bukannya sembuh, melainkan sudah menjalar keseluruh tubuh. Astaghfirullah...

Paginya pemakaman dilakukan. Jauh sebelum Eyang meninggal, aku berkeinginan menjadi pengantar terakhir dan berharap bisa tinggal barang beberapa menit di pusara. Berharap menemani Eyang dengan doa ketika Munkar Nakir menanyai ritual kubur.

Sebulan sudah Eyang 'pulang', masih tersisa bayangan Eyang duduk di kursi depan. Sekarang Eyang telah tiada, pergi untuk selama-lamanya....

Eyang datang lewat mimpi, katanya, "serukan pada saudara-saudara di dunia untuk tidak membicarakan keburukanku. Sungguh keadaan disini tidak semudah seperti yang orang bayangkan. Kami disini terbagi menjadi dua kelompok saja, penghuni Masjid dan penghuni gurun panas yang melakukan perjalanan menunggu saatnya Yaumul Akhir tiba. Doakan kami semua ya...." Wallahu A'lam Bishowab. Itu katanya. Bangun, aku terdiam lama. Mimpi yang penuh makna, tausyiah/nasehat dan seruan.
Kusampaikan mimpi Eyang.... dan Subhanallah memang benar, ada saudara yang membicarakan keburukan Eyang.

Entah tepatnya kapan, lagi...mimpi...ada jembatan yang tidak terlalu panjang...bawahnya hanya sungai biasa. Anehnya, panjang sekali antrian orang ingin memasuki jembatan itu.... aku sempat bingung, jembatan apa ini?? Tiba giliranku menyeberang jembatan. Tidak ada yang aneh, biasa saja. Pas di ujung jembatan, hanya ada satu rumah saja yang dituju. Kumasuki rumah itu...sontak aku kaget setengah mati, rumah itu isinya orang sekarat semuanya dan banyak sekali....mirip bangsal rumah sakit.
Orang pertama yang kudatangi adalah orang pertama yang kutemui. Tak kukenal orang itu. Dia mengeluh sakit yang luar biasa, ajarkan aku mengenal Tuhanku, Nabi, Agama, dan Kitab suci....keluhnya sambil meronta-ronta.
Orang kedua masih berkeluhan sama dengan yang pertama. Orang ketiga, keempat, kelima masih sama dan aku masih belum paham rumah apa ini?? Hingga akhirnya, ada suara-suara Pekikan Allahu Akbar.....bergegas kutemui orang itu sembari mengabaikan orang-orang disekelilingku yang meminta pertolongan menggapai-gapai tanganku. Dan dia bertakbir dengan lantangnya dan memberitahuku," inilah tempat dimana setiap orang mengantri untuk dicabut nyawanya....bukankah kau sudah mengetahui dengan kepalamu sendiri, bagaimana proses ini berlangsung..??.." Sesaat setelah memberitahuku, Innalillah, dia sudah berpulang dengan roman wajah tersenyum...Subhanallah.....
Dan kulihat masih banyak saudara-saudara yang kesakitan di samping kanan kiriku...Allahu Akbar, Subhanallah.....aku berteriak, Ya ALLAH Pemilik alam semesta, cabutlah semua nyawa saudara muslimku tanpa terkecuali dengan khusnul khotimah, mudahkanlah dan ampunilah segala dosa dan kealpaannya.....Aku terengah-engah, hingga kudengar suara Eyang di kejauhan....Eyang menghampiri dan berkata " inilah SAKARATUL MAUT. Masa ini sudah pernah kulalui dan ini adalah masa yang sangat sulit untuk setiap Hamba Allah. Perbanyak amal shalih untuk memudahkanmu melewati ini ya.....Serukan pada Hamba Allah yang lain ya, jangan lupa mendoakan muslim yang telah berpulang lebih dahulu.... dan pulanglah sekarang..... Kulewati jembatan melawan arah orang-orang yang antri menyeberang dan bangun...

Subhanallah, Allahu Akbar, Laa illa ha illalah...... Mimpi ini sungguh bermakna....
Wahai saudara muslimku, tak banyak kata yang bisa kuucap melainkan tetes tetes airmata meratapi kesalahan yang telah lewat...lagi lagi dan lagi...dosa, dosa dan dosa..... Jadikan ini pelajaran berharga untuk semua muslim di dunia untuk senantiasa menutup rapat keburukan saudara kita yang telah tiada, mendoakan setiap muslim manapun baik yang masih hidup dan yang telah berpulang. Dan satu lagi, persiapkan diri sebaik-baiknya dan senantiasa bahu-membahu, sehat menasehati, ingat-mengingatkan saudara semuslim.....

Semoga artikel ini bisa menambah nilai ketaqwaan kita terhadap Allah Ta'ala....Semoga bermanfaat...Semoga kita berpulang ke Rahmatullah dengan Khusnul Khatimah....Amin

1 komentar:

  1. Sungguh menyentuh cerita ini. Di jaman seperti sekarang orang lupa dengan hari akhir dan hanya mengejar dunia semata. Orang harus paham bahwa setelah mati, masih ada kehidupan yang mesti dijalani. Dengan cerita ini, orang bisa mendapat gambaran seperti apa penderitaan di alam kubur. Terima kasih Ummu Daffa atas cerita yang luar biasa ini.

    BalasHapus